DIAKU #Part5

 

Foto aku pas PKL 

Di tahun kedua bersamanya, semua mulai berubah dan hilang. Tentu masing-masing dari kami akan mengatakan bahwa “aku nggak berubah”. Tapi masing-masing dari kami sudah merasa bahwa “kita sudah berubah”.

Tentu masing-masing dari kami akan merasa paling benar, dan masing-masing dari kami akan merasa menjadi pihak yang tersakiti. Dan ditulisan kali ini aku akan membahas sudut pandangku.

Tentu kita ingin menjadi versi terbaik untuk pasangan kita, tentu jika kita memang benar-benar cinta, kita tidak akan menyakiti yang kita cintai.

Awal mula dekat, semua terasa begitu indah dan tidak ada yang kurang, namun seiring berjalannya waktu mulai nampak kekurangan dan bermacam ujian. Wajar lah ya, karena memang tidak ada yang tetap kecuali perubahan.

Namun perubahan yang aku alami dalam hubungan ini sangat signifikan, sebab dia sudah beralih ke jabatan yang lebih tinggi. Yaaaaa pastinya sudah jarang ketemu, pastinya sudah jarang komunikasi, pastinya kebiasaan lama yang aku suka hampir seluruhnya berubah.

Tapi bukankah kita butuh waktu untuk beradaptasi ?

Pas awal dia jadi orang paling sibuk sedunia, kita mulai jarang bertemu, bertemupun cuma sebentar. Dia begitu cepat pergi, “aku geser dulu”. Aku berusaha beradaptasi dan tidak pernah meminta bertemu lagi sebagai bentuk pengertianku. Tapi kadang dia suka maksa untuk ketemu, katanya rindu. Tentu yang dia katakan berbeda dengan tingkah lakunya. Tentu isi pertemuan itu sudah kehilangan esensinya, yang seharusnya berbagi cerita, malah aku kayak orang lagi wawancara. Kadang ga jarang pas giliran aku cerita, dia mengalihkan pandangan pada telepon genggamnya. Tentu aku sudah tidak tertarik untuk melanjutkan ceritaku. Karena tau bahwa laki-laki cukup sulit dalam memecah fokus. Sering banget pas aku cerita baik ditelfon atau pas ketemu langsung dia ga bisa mendengarkan dengan baik. Sebagai manusia perasa, tentu aku merasa ceritaku tidak menarik baginya. Dan mengambil keputusan untuk tidak berbagi cerita lagi. Apakah itu bisa disebut “mudah menyimpulkan” jika sudah sering dilakukan? Justru aku akan terlihat dungu dengan tetap bercerita kepada orang yang tidak ingin mendengar ceritaku.

Pas awal dia jadi orang paling sibuk sedunia, dia sering ku blokir, entah kesal kenapa, tapi aku suka karena dia nyariin aku. Lucu aja, diblokir di WA, dia nyari aku di Instagram, diblokir di Instagram dia nyari aku di facebook, aku blokir di facebook dia nyari aku di twitter, aku blokir di twitter dia nyari aku lewat telfon seluler, aku blacklist dari panggilan seluler, dia pakek hape abinya buat nelfon  aku. Dia se effort itu dulu. Tapi sekarang udah nggak, dia udah ga pernah ngebujuk aku pas ngambek, katanya ntar sembuh sembuh sendiri. Dan udah ga pernah nyari lagi kalo lagi ku blokir. Eh sekarang malah kelewat ga pernah komunikasi. Katanya hal sepele. Jadi, sebagai bentuk pengertianku, tentu aku tidak akan menghubunginya terlebih dahulu, karena takut ganggu. Dia ga pernah bilang kalo chatku mengganggu dia sih, tapi melihat dia online tanpa membalas pesanku rasanya lebih sakit. Kadang aku lupa kalo dia orang sibuk dengan puluhan panggilan telfon masuk, dan ratusan chat yang mengendap.

Katanya, kalo orang cinta, dia akan mencari tau semua tentang yang dicintai. Aku tipikal orang seperti itu, tapi dia sepertinya tidak ingin aku seperti itu. Buktinya dia ga pernah kasih kabar. Ngasih sih, tapi harus ditanya Panjang kali lebar dulu, atau kalua tidak, dia nunggu aku ngambek dulu baru kasih kabar. Kalo aku ngambek karena dia nggak ngasih kabar, dia akan bilang kalo aku suka ngeributin hal sepele.

Aku ga tau harus nurunin ekspektasiku seperti apalagi. Aku ngerasa udah ga pernah nuntut apapun. Aku ga minta uang, aku ga minta hadiah di waktu ulang tahunku, aku ga minta anniv kita dirayain, bahkan aku juga ga minta cepet nikah. Bahkan sekarang aku udah ga minta waktu kamu lagi hanya untuk dengerin ceritaku. Aku cuma minta kabar kamu, aku pengen tau keadaan orang yang aku cinta. Aku juga ingin menanggung sakit orang yang aku cinta, aku ingin tau segalanya tentang orang yang aku cintai. Tapi itu rasanya permintaan yang sulit untuk kamu penuhi. Perlahan, aku mencoba untuk melepas rasa ingin tauku tentangmu, jika memang hal itu membuatmu risih.

Bagaimana aku tidak menganggap bahwa kabar itu penting jika hanya itu satu-satunya hal yang membuatku merasa masih dianggap ? bagaimana aku tidak menganggap bahwa kabar adalah hal yang berharga jika itu satu-satunya hal yang paling mungkin untuk kamu lakukan untukku ?  kamu tau, kegagalan perempuan adalah saat dia tidak bisa menjadi tempat pulang ternyaman untuk lelakinya. Alias lelakinya tidak berkenan untuk bercerita padanya. Dan aku sangat merasa gagal.

Aku tidak ingin menyusahkanmu sungguh. Aku sayang kamu. Makanya, apa-apa aku bilang “bisa sendiri” karena aku ga mau ngerepotin kamu. Iya, kamu yang merasa paling sibuk dan paling merana. Kamu ngabarin aku, kamu cerita sama aku, itu aku seneng banget. Tapi kalo itu nyusahin kamu, gapapa. Aku udah siap lost contact sama kamu.

Bukan Cuma kamu yang capek, aku juga. Kamu enak, capek bisa dialihkan pakek ngopi, ngerokok. Kamu enak bisa keluar kemanapun dan kapanpun yang kamu mau agar tenang. Aku ? siapa lagi tempatku untuk bercerita ? kemana lagi tujuanku jika bukan kamu ? kamu terlalu segalanya buat aku. Aku sudah berlebihan. Maaf. 

Ditulis sambil nangis-nangis abis acara harlah KOPRI 56

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drama Tesis Part 1

Diaku Part#3