Diaku #Part2
Dia orang baik. Aku menyukainya. Dia selalu menyampaikan terimakasih padaku tetkala dia mendapatkan hal yang menurutnya baik dariku.
Aku selalu menanggapinya dab berkata, "itu memang sudah hakmu".
Diluar sana, hidupnya kurang begitu baik meski dia sudah baik. Maka dari itu, sebagai orang tempatnya berkeluh kesah, wajib bagiku untuk merangkulnya dan memastikan bahwa masih ada orang baik diluar keluarganya yang peduli padanya.
Tapi kadang moodku yang tak beraturan seringkali membuatnya geregetan. Apakah dia marah ? Tidak. Dia tak pernah marah padaku.
Aku sangat mengagumi hatinya, bagaimana bisa aku bertemu dengan sosok yang begitu baik padaku.
Oh bukan hanya padaku, pada teman-temanku, pada organisasiku, dan juga pada teman-temannya.
Entah, aku selalu khawatir bahwa aku akan menyakiti hatinya. Sekalipun itu bukan maksudku, bukan sengajaku, tapi aku selalu takut soal itu.
Dia, sudah pasti bisa membuatku bahagia. Tapi aku belum tentu.
Dia begitu yakin bisa hidup bersamaku. Tapi aku tidak yakin Karna orang tuaku yang mempersoalkan pengetahuan agamanya.
Mungkin iya itu penting, tapi entah kenapa aku tidak menginginkannya.
Aku lebih memilih baik daripada pintar. Kenapa ?
Aku hanya mengaca pada diriku sendiri, pelabelan pintar yang ada pada diriku sangat berpotensi untuk angkuh dan menyepelekan orang lain. Padahal aku tau itu tidak boleh, tapi aku tetap bersikap seperti itu. Jadi untuk apa pengetahuan ku?
Orang baik seperti nya sangat mampu mengontrol hatinya. Aku rasa lebih baik seperti itu. Karna membenarkan orang baik itu lebih mudah daripada membenarkan orang pintar.
Semoga kita bisa bersama, Karna bersamamu aku merasa imbang.
Diketik pada hari Selasa, 15 Februari 2022 di kasur
Himma Savira
Komentar
Posting Komentar