DIAKU #Part6

 

Ranupane

Untuk siapapun yang membaca tulisan ini, nyuwun pangestunipun. Kami akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat. Semoga segalanya dilancarkan, disehatkan, dan doakan kami agar menjadi keluarga yang mashlahah.

Dia akan memenuhi janjinya untuk menikahiku. Aku tahu ini adalah hal yang sulit baginya, bukan karena dia tak ingin, namun kondisinya yang belum mendukung untuk itu. Tapi dia berusaha untuk menerima segala resikonya. Rencana awal, mau nikah pas aku lulus S1 tahun kemaren. Tapi karena dia kepilih jadi ketum, akhirnya diundur sampai dia demis. Tapi sekarang dipercepat. Sebelum dia demis.

Dia sudah tau resikonya bahwa dia akan menjadi bahan omongan. Dia adalah satu-satunya ketum di Lumajang yang nikah dulu sebelum demis. Dia belum punya kerjaan tetap, dia juga masih akan disibukkan dengan organisasinya. Aku juga masih harus kuliah di kota sebelah. Dan masih banyak hal lain yang tidak bisa ku deskripsikan disini. Lengkap sudah segala resikonya. Tapi dia sudah siap dengan itu semua. Begitupun denganku. Dia bilang, yang penting kita, aku dan kamu. Kita hadapi semua bareng-bareng.

Aku hanya berdoa, semoga aku bisa tetap menjadi support system di setiap prosesnya, menjadi pelipur laranya, menjadi obat disegala sakitnya, menjadi penguat disetiap lemahnya.

Aku tidak tau terbuat dari apa hatinya, kenapa bisa setekad itu. Orang-orang selalu saja menganggap menjadi dirinya adalah hal yang mudah. Membayangkannya saja aku tidak sanggup. Dia adalah benar-benar pemimpin yang melayani. Bukan dilayani. Aku tau bagaimana dia bekerja sendiri di organisasi. Aku tau bagaimana pusingnya dia menyiapkan segalanya. Mungkin terlalu sombong mengatakan ‘bekerja sendiri’. Tapi terkadang memang begitu. Terkadang bukan pengurus yang dilantik yang membantunya, akan tetapi pengurus yang berada di struktur di bawahnya. Pengurusnya sendiri kemana? Sibuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Iya, bekerja.

Mereka mengaggap hidupnya terjamin karena dia memiliki orang tua yang ‘cukup’ dan kakak yang sudah sukses karirnya di politik. Tapi kenyataannya tidak demikian, sungguh tidak demikian. Aku saksinya, tapi aku tidak bisa menuliskannya disini. Aku tau bagaimana dia menahan laparnya karena tak punya uang untuk membeli makan, aku tau bagaimana dia tak mampu untuk membeli kuota HPnya, padahal dia tau akan banyak yang menghubunginya.

Tapi dalam kondisi yang seperti itu, Ketika ada uang, dia pasti akan membayarkan kopi kader dan temannya. Tidak jarang dia juga berhutang. Dan setelah sekian lama mengalami masa sulit itu, sahabat-sahabatnya mengerti kondisinya dan balik menraktirnya. Selalu ada saja rejeki yang datang saat sulitnya. Aku tidak berhenti menyaksikan setiap keajaiban yang ada dalam hidupnya. Meski terhitung dramatis dan menguras pikiran. Benar bahwa Allah tidak akan menguji hamba-Nya melampaui batas kemampuannya. Dan benar janji Allah bahwa setiap kesulitan ada kemudahan. Aku tidak bisa mendeskripsikan kesabarannya…

Kadang aku mikir, apakah adaku tidak menambah bebannya ? aku yang egois ini, pemarah, kesabaran setipis tissue dibagi dua. Sungguh aku tidak ingin menambah kesedihannya, tapi kadang itu terjadi diluar kendali. Aku selalu bilang, jangan sama aku, kamu cari yang setara sama kamu, biar ga kena amuk terus. Tapi dia tetep bilang, “aku maunya sama kamu”.

Dalam rentang waktu yang mepet ini, dia juga punya agenda besar di organisasi. Dia pasti sibuk nyari dana, ngurus segala kebutuhannya, satu sisi masih harus nyebar undangan nikah kesana kemari yang tidak bisa dititipkan begitu saja, karena bukan teman, tapi senior. Semoga segalanya dimudahkan. Aku selalu berdoa untunya, juga keselamatannya. Mohon lindungan-Mu ya Rabb….

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drama Tesis Part 1

DIAKU #Part5

Diaku Part#3