MAKIN BANYAK UJIAN MAKIN BANYAK BELAJAR



Sejak kejadian kemaren, aku banyak belajar. Terutama tentang berharap kepada manusia. Benar dawuh sayyidina Ali bahwa berharap pada manusia adalah sumber kecewa. Dan benar juga bahwa kita akan selalu diuji atas sesuatu yang kita cintai.

Sebagai anak yang tumbuh dalam keluarga yang selalu menjaga konsistensi dan menjunjung tinggi kejujuran adalah anugrah terindah yang patut aku syukuri. Namun karena tumbuh di lingkungan seperti itu pula aku menjadi manusia yang begitu polos, mudah percaya, dan diperdaya. Tidak pernah terbesit sedikitpun dalam pikiranku untuk mengecewakan orang lain, terlebih mereka yang menaruh harap padaku. Tapi bukan berarti hal itu dapat menjamin orang lain akan melakukan hal yang serupa kepadaku, bahkan yang terjadi sebaliknya. Iya, dusta dan pengkhianatan.

Kecewa itu hadir menyambar dadaku, sangat diluar dugaan. Orang yang ku percaya, orang yang dinilai polos, kalem, memiliki kesabaran tingkat dewa oleh semua orang, juga memiliki cakar yang tajam untuk mencabik habis hati orang lain. Meski hal itu sulit dipercaya, tapi itulah faktanya.

Kejadian itu ngajarin aku, kalo dunia ini emang penuh tipu daya. Dan aku juga belajar untuk tidak terlalu kagum pada hal-hal yang nampak indah oleh mataku. Aku rasa Allah juga ingin memberiku pelajaran untuk tidak terlalu berharap pada manusia, siapapun itu. Karena itu yang menjadi sumber kekecewaan. Jadi sekarang aku udah ga mudah kaget kalo misal terjadi hal-hal diluar dugaan. Siapapun bisa melakukan apapun. Cuma Allah tempat berharap satu-satunya.

Kita ga usah fokus sama yang orang lain lakukan ke kita, yang penting kita sudah memenuhi kewajiban kita terhadapnya. Apapun yang terjadi, jangan sampai kita mengotori hati nurani kita. Yang penting itu kita dihadapan Allah, perkara kamu disakiti, dikecawakan, dikhianati, kembalikan semua pada Allah. Allah yang ngatur semuanya. Sedih, nangis gapapa, asal jangan berlarut-larut.

Semua sakit dan kecewa boleh dikasih ke aku, asal jangan aku yang ngasih itu ke orang lain. Cuma itu prinsip yang aku pegang sekarang.

Dulu sempet punya keinginan untuk ngerubah dia, sering ngasih tau hal yang benar tapi responnya kurang baik. Malah kayak aku yang terkesan sok bijak. Ya emang bukan kapasitas kita juga untuk ngerubah orang, yang bisa cuma Allah SWT. Jadi aku cuma bisa berdoa yang terbaik, dan memohonkan ampunan.

Mendoakan kebaikan kepada orang yang udah nyakitin kita tuh another level of tawakkal. Pasrah sepasrah pasrahnya. Udah ga punya kekuatan apapun lagi. Karena itu emang diluar kendali kita banget. Jadi sekarang, aku cuma nunggu ada ujian apalagi setelah ini, ada kejutan apalagi setelah ini, ada pelajaran apalagi di depan.

Aku sebenarnya siap mau dikecewakan seperti apapun, yang ga siap cuma rasa malunya. Dan aku juga ga siap ngeliat orang tuaku kecewa karena putrinya disakiti.

 Ya Allah, bahagiakanlah hati orang-orang yang menjadi korban pengkhianatan dan memilih untuk tetap menjadi baik. Hiburlah hatinya yang diliputi keraguan, kewaspadaan, dan selalu takut untuk menaruh percaya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drama Tesis Part 1

DIAKU #Part5

Diaku Part#3