APAKAH INI YANG DINAMAKAN PENGORBANAN ?
| Angkatan PKD ngecamp di Watu Pecak |
Sekarang aku mau cerita tentang apa yang aku alami saat ini. Jadi gini, aku bergabung di sebuah organisasi dan sudah menjadi pengurus, kebetulan aku ada dibidang yang katanya bidang ini merupakan ruh dari si organisasi tersebut, jadi koordnya lagi. Jadi dari situ aku merasa bahwa aku memiliki tanggung jawab yang sangat besar dan pastinya tidak bisa ditinggalkan.
Pertanyaannya sederhana, bagaimana jika suatu ruh keluar dari jasadnya? jawabannya sudah barang pasti mati. Dan aku tidak menginginkan itu. Aku tidak memposisikan diriku sebagai orang yang sangat penting disini, hanya saja ini bentuk refleksiku terhadap amanah yang telah diberikan kepadaku. Karna aku sadar, ini organisasi besar, yang ada atau tidaknya aku di dalamnya pasti akan tetap besar.
Cuman pada realitanya, tidak semua anggota organisasi itu paham akan tanggung jawabnya, tidak semuanya sadar akan kewajiban yang harus ia laksanakan, sehingga menuntut yang sadar untuk melakukan sesuatu yang bahkan itu bukan tugasnya.
Bisa kebayang gak, betapa bubarnya fokus si sadar ini ? Tugas dibidangnya saja tidak selesai, apalagi masih harus mengurus dan mengontrol keseluruhan bidang yang ada dalamnya?
Oh, lagi-lagi aku tidak bermaksud mengklaim diriku sebagai anggota yang berkesadaran. Aku hanya ingin kalian tau, hayati lelah.
Statusku saat ini adalah seorang mahasiswa penerima beasiswa. Dimana aku dituntut untuk memiliki prestasi dibidang akademikku. Seharusnya, dengan mengikuti organisasi itu akan menunjang prestasiku dibidang akademik. Seharusnya dengan berorganisasi itu bisa menjadi jembatan penghubung dengan cita-citaku. Namun yang terjadi tidak demikian.
Entah aku ini jahat, entah aku ini tidak sayang pada diriku sendiri, tapi rasanya memang berat untuk meninggalkan tanggung jawabku di organisasi. Sampai-sampai aku harus merelekan apa yang selama ini menjadi cita-citaku, sampai-sampai aku harus melepas sesuatu yang sangat berharga begitu saja. Apa ini yang namanya pengorbanan? Akupun tak tau.
Sungguh, yang ada dipikiranku hanyalah kepentingan bersama, nama baik instansi, dan keberdayaan anggota-anggota yang ada di dalamnya. Tidak ada hal lain. Hanya saja, banyak pihak yang menganggap bahwasanya aku tidak menghargai kesempatan yang telah diberikan. Dikasih akses untuk berprestasi malah dilepas, dikasih akses untuk berpengalaman malah ngundurin diri. Memang benar, tapi gimana lagi? Harusnya aku bisa bersikap biasa saja, toh orang lain tidak tau kecamuk isi otakku bagaimana. Toh Allah ga ngenilai aku berdasarkan prasangkan orang lain.
Aku juga tidak tau, kenapa aku lebih memilih jalan yang rumit ini, aku tidak tau kenapa aku lebih mementingkan kepentingan bersama ini. Yang jelas, aku cuma berani ambil resiko. Entah itu resiko berupa penyesalan, entah itu resiko kehilangan kesempatan, apapun itu aku terima. Tapi aku pengen, pengennnn banget ya Allah, apa yang aku lakukan itu seenggaknya berpahala. Udah itu aja ya Allah.
Dan aku mohon, mohon berikan pikiran yang tajam, fokus yang runcing, dan juga kemampuan untuk memanajemen waktu. Sungguh bersama kesulitan ada kemudahan.
Himma Savira
Komentar
Posting Komentar