Jadi Orang yang Bermanfaat Sambat, Ga Jadi Melarat
![]() |
| Ilustrasi ini cuma buat coba-coba |
Aku tipikal
orang yang suka gak enakan. Sikap orang lain agak beda, ucapannya yang agak
menyindir, selalu bikin otakku overthinking. Padahal aku sadar, kita tidak
hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain terhadap kita. Tapi kenapa aku
selalu berusaha pengen ngebantu mereka, pengen bermanfaat buat mereka, pengen
jadi orang yang berguna buat mereka, pengen mereka bangga punya aku, mereka
seneng sama aku. Sampe-sampe ngerasa capek sendiri sama keadaan.
Dari dulu
aku selalu ingin membuat orang diluarku bangga sama aku, kayak yang aku lakuin
buat orang tuaku. Kesadaran akan susahnya nyari uang, membuatku tergerak untuk
belajar mati-matian sampe ga mikir kondisi fisikku. Dan kebiasaan itu masih berlangsung
hingga saat ini. Bahkan yang aku lakukan saat ini, bener-bener bikin aku ingin
menyerah. Bukan untuk orang tuaku, tapi orang lain. Orang lain yang bahkan
bukan siapa-siapa, namun karna rasa gak enakan tadi, aku merasa mereka adalah
orang yang sangat berjasa. Sehingga aku ingin memenuhi ekspektasi mereka
terhadapku. Dan itu sangat melelahkan.
Apa ini yang
dimaksud melawan arus? Apa ini yang disebut keluar dari zona nyaman?
Sungguh aku
terperangkap dalam pikiranku. Antara aku yang harus berkembang dalam kondisi
dimana aku merasa nyaman, dan aku yang harus keluar dari zona nyaman. Antara apakah
aku ada di jalan yang benar, atau aku yang hanya berambisi untuk benar.
Kadang aku
iri, sama orang yang hidupnya lurus lurus aja, mengalir sesuai dengan apa yang
dia inginkan. Sekalipun itu dalam rangka memenuhi ekspektasi orang, tapi disitu
dia nyaman, disitu dia berkembang sesuai sama passion yang dia punya. Sehingga
menjalaninya pun tidak terasa penat, sekalipun penat tidak akan membuatnya
sambat.
Sadar sesadar-sadarnya,
bahwa semua hal itu hanya membuat penat, sadar bahwa semua itu adalah bentuk
menyakiti diri dengan sangat, sadar bahwa semua itu hanya akan menambah beban
hidup menjadi berat. Bukankah bodoh, saat kau tau kau tak Bahagia namun kau menolak
untuk pergi?
Membahagiakan
diri lalu tidak menjaga perasaan orang lain menurutku juga bukan suatu
kebenaran. Dan hal yang menurut kita itu nyaman, juga tidak menjamin kita untuk
grow up.
Aku sangat
paham, bahwa hidup itu tidak memakai prinsip ekonomi, dimana apa yang kita
berikan harus sebanding dengan apa yang kita terima. Hidup sangat tidak seperti
itu. Tapi yakinkan aku Tuhan, bahwa hal baik yang aku tanam, akan baik pula
hasilnya. Jika bukan sekarang mungkin nanti.
Oleh : Himma Savira (Orang ga waras yang berani ngepublish isi hatinya pake nama asli)

Komentar
Posting Komentar