Jadi Orang yang Bermanfaat Sambat, Ga Jadi Melarat

Ilustrasi ini cuma buat coba-coba
 Aku pernah mendengar sebuah kalimat yang isinya, “Kamu ga bakal bisa nulis sampai kamu merasakan sakit hati”. Aku rasa itu benar. Buktinya sekarang aku mau menulis. Entah apa yang akan ku sampaikan pada tulisanku kali ini. Mungkin rasa sesak.

Aku tipikal orang yang suka gak enakan. Sikap orang lain agak beda, ucapannya yang agak menyindir, selalu bikin otakku overthinking. Padahal aku sadar, kita tidak hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain terhadap kita. Tapi kenapa aku selalu berusaha pengen ngebantu mereka, pengen bermanfaat buat mereka, pengen jadi orang yang berguna buat mereka, pengen mereka bangga punya aku, mereka seneng sama aku. Sampe-sampe ngerasa capek sendiri sama keadaan.

Dari dulu aku selalu ingin membuat orang diluarku bangga sama aku, kayak yang aku lakuin buat orang tuaku. Kesadaran akan susahnya nyari uang, membuatku tergerak untuk belajar mati-matian sampe ga mikir kondisi fisikku. Dan kebiasaan itu masih berlangsung hingga saat ini. Bahkan yang aku lakukan saat ini, bener-bener bikin aku ingin menyerah. Bukan untuk orang tuaku, tapi orang lain. Orang lain yang bahkan bukan siapa-siapa, namun karna rasa gak enakan tadi, aku merasa mereka adalah orang yang sangat berjasa. Sehingga aku ingin memenuhi ekspektasi mereka terhadapku. Dan itu sangat melelahkan.

Apa ini yang dimaksud melawan arus? Apa ini yang disebut keluar dari zona nyaman?

Sungguh aku terperangkap dalam pikiranku. Antara aku yang harus berkembang dalam kondisi dimana aku merasa nyaman, dan aku yang harus keluar dari zona nyaman. Antara apakah aku ada di jalan yang benar, atau aku yang hanya berambisi untuk benar.

Kadang aku iri, sama orang yang hidupnya lurus lurus aja, mengalir sesuai dengan apa yang dia inginkan. Sekalipun itu dalam rangka memenuhi ekspektasi orang, tapi disitu dia nyaman, disitu dia berkembang sesuai sama passion yang dia punya. Sehingga menjalaninya pun tidak terasa penat, sekalipun penat tidak akan membuatnya sambat.

Sadar sesadar-sadarnya, bahwa semua hal itu hanya membuat penat, sadar bahwa semua itu adalah bentuk menyakiti diri dengan sangat, sadar bahwa semua itu hanya akan menambah beban hidup menjadi berat. Bukankah bodoh, saat kau tau kau tak Bahagia namun kau menolak untuk pergi?

Membahagiakan diri lalu tidak menjaga perasaan orang lain menurutku juga bukan suatu kebenaran. Dan hal yang menurut kita itu nyaman, juga tidak menjamin kita untuk grow up.

Aku sangat paham, bahwa hidup itu tidak memakai prinsip ekonomi, dimana apa yang kita berikan harus sebanding dengan apa yang kita terima. Hidup sangat tidak seperti itu. Tapi yakinkan aku Tuhan, bahwa hal baik yang aku tanam, akan baik pula hasilnya. Jika bukan sekarang mungkin nanti.

Oleh : Himma Savira (Orang ga waras yang berani ngepublish isi hatinya pake nama asli)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drama Tesis Part 1

DIAKU #Part5

Diaku Part#3