CERITA DAPET BEASISWA TAPI ADA KEPANJANGANNYA :V

Oke, ditulisan sebelumnya aku pernah bilang kalo mau nulis tentang proses aku dapetin beasiswa. Tapi sebelum itu aku mau bilang kalo sebelum aku mutusin buat kuliah di kampus ku yang sekarang ini, sebenernya aku pengen kuliah di luar kota. Tapi beberapa kali ditolak. Bahkan aku sudah menempuh jalur mandiri. Jalur terakhir untuk masuk ke perguruan tinggi negeri.

Oke, singkat cerita karna usaha untuk masuk ke perguruan tinggi impian tidak tercapai, akhirnya aku memutuskan untuk kuliah disini, di tempat dimana aku tinggal, sebuah Yayasan yang sedari kecil aku menempuh pendidikan di dalamnya. Letak kampusnya hanya sekitar 100 meter dari rumahku.

Kalian tau, betapa bosannya aku, menempuh pendidikan kanak-kanak hingga perguruan tinggi di tempat yang sama. Yang pindah Cuma gedungnya doang. Aku hampir aja memutuskan untuk gap year dan fokus belajar buat masuk PTN. Tapi umiku nyaranin untuk ambil kuliah di deket rumah ini setahun (kampusku yang sekarang), dari pada nganggur katanya. “Toh kamu dapet beasiswa”, lanjutnya. (aku dapet beasiswa karna jadi lulusan terbaik di sekolah). Pas ku pikir pikir, iya juga sih. Tanpa pikir Panjang, Akhirnya aku langsung daftarin diri ke kampus.

Terus aku masuk ke ruang bagian keuangan kampus untuk ngurusin beasiswaku. Katanya aku harus menyertakan surat keterangan dari Yayasan yang menyatakan bahwa aku adalah lulusan terbaik pas di sekolah. Singkat cerita aku udah dapet nih suratnya, ku pikir hanya menyertakan surat, beasiswa langsung bisa ku dapat. Eh, ternyata tidak. Sistemnya sudah tidak seperti dulu lagi. Dulu dulunya kalo ada mahasiswa dapet beasiswa dan itu disetujui Yayasan, ya udah, tinggal kuliah, ga usah bayar, alias gratis.

Nah, pas ngajukan surat keterangan itu, aku malah ditawarin beasiswa bidikmisi. Ya aku mau lah. Pulang dari sana aku langsung nyiapin berkas-berkasnya. Cerita ke umi kan kalo dapet tawaran itu. terus umi bilang, “dulu kan vira pernah bilang ke umi, kalo vira gak pengen nyari beasiswa, tapi beasiswa yang nyari vira”. Wah aku udah lupa banget soal itu. ternyata sekalipun kitaudah lupa sama doa kitam Allah tetap mengingatnya.

Terus pas aku udah mau setor berkasnya malah ada kabar buruk, “yang dapet beasiswa hanya yang mondok saja. Tapi coba saya matur ke rektor mungkin samean dibolehin”, kata si petugas. Sempet ngerasa gak adil aja pas itu, dan harap harap cemas semoga aku disetujui untuk ikut beasiswa bidikmisi.

Sebelumnya aku pernah nyoba ikut beasiswa ini ketika aku ngedaftarin diri di PTN di luar kota. Dan sistemnya memang harus di seleksi. Harus lolos kriteria. Dan pastinya beasiswa ini terbuka untuk umum, tidak di batasi oleh apapun. Ternyata di kampusku, beasiswa ini tidak di komersialkan, tertutup, dan hanya diperuntukkan kepada orang-orang tertentu, punya kriteria sendiri gitu lah.

Kampusku mendapat kuota 10 orang penerima bidikmisi. Dan pastinya hanya 10 mahasiswa yang kampus daftarkan kesana. Artinya tidak ada seleksi dan pasti keterima semua. Aku masih bertanya-tanya, mengapa sistemnya seperti ini ? (posisiku masih belom gabung organisasi nih, jiwa kritis dan membaca keadaan masih belom ada).

Pada pertengahan proses pengajuan berkas, tiba-tiba ada kabar buruk lagi. Kuota bidikmisi di kurangi, dari 10 menjadi 4. Kagetlah, itu artinya akan ada sistem lolos dan tidak lolos. Lalu kampus bilang ke kita kalo nanti misal yang 4 cair, uangnya dibagi 10. Dan kalo masih kurang untuk bayar UKT, itu ditanggung sendiri. Oh My God !!!! kesel gak sih, ngerasa di PHP.

Beberapa hari kemudian, ada kabar lagi, kuota tetap 10. Pihak kampus sudah berusaha melobi ke pusat agar kuota beasiswa di kampus kami tetap. Namun, dari sana minta komisi katanya. Jadi pas uang kita cair langsung dipotong 30%. Hmm baiklah. Yang penting kan kuliah gak bayar, dulu gitu sih mikirnya.

Di potong 30% hanya berlaku saat aku masih semester 1, semester berikutnya dan selanjutnya  turun jadi 20%. Kok bisa beda ya jumlahnya ? dan kenapa setiap semester dipotongnya ? aku baru sadar hal ini beberapa bulan kemaren. Kami juga tidak pernah tau uang potongan kami itu lari kemana, tidak pernah ada transparansi dari kampus bahwa uang potongan telah di setor.

Akhirnya untuk menyelidiki hal tersebut, aku tanya nih ke Angkatan beasiswa dibawahku. Ternyata sama, di potong juga. Mana di potong 30% seterusnya, dan dipotongnya juga karna alasan yang sama. Ah masak iya sih tiap tahun kasusnya selalu sama ? Mulai merasa ada yang tidak beres. Ada apa dengan sistem keuangan kampus ?

Aku sempet ingin meng advoksi masalah ini, lalu menceritakannya pada abi dan umi. Tapi tipikal orang tuaku emang suka nyari aman, dan ga ngebolehin aku untuk ngusut soal ini. Hm aku bahkan rela kalo misal beasiswa ku di cabut, dan harus mengembalikannya dari awal. Asal sistem keuangan transparan, beasiswa bisa dikomersialkan dan tepat sasaran.

Sebenernya kan aku punya hak beasiswa, dan kampus sebenernya harus nanggung itu. mungkin kampus tidak ingin keluar uang lalu mengarahkanku untuk ikut bidikmisi. Kampus emang pinter mainnya. Makin nakal aja.

Diketik di : Kedai Gladhak

Himma Savira

Komentar

  1. Kita tidak mungkin dapat merubah Mata Angin Tetapi kita masih diberi Kesempatan untuk dapat merubah Layar Perahu

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drama Tesis Part 1

DIAKU #Part5

Diaku Part#3