Diaku #Part1

Foto istimewa by aku di Ranu Regulo 

Pada tulisan kali ini, aku ingin mendeskripsikan seseorang yang sedang Bersamaku saat ini. Teman perjalananku. Sebut saja Mr. Kind. Kenapa aku kasih inisial Mr. Kind ? iya tentunya dia begitu baik di mataku.

Mari kita mulai deskripsi tentangnya sejak dia tidak diperbolehkan mengikuti wisuda oleh pihak kampus. Kami berkuliah di kampus yang sama, dia dua tahun di atasku. Kami juga ada di satu organisasi yang sama.

Pada waktu itu, dia Bersama satu temannya -sebut saja kimis- sedang mengikuti salah satu pengkaderan formal di luar kota. Agenda tersebut bertepatan dengan yudisium -salah satu agenda kampus yang menjadi salah satu syarat wisuda. Tapi meski begitu, karakter kampus kami tidak begitu ketat soal begituan. Asal bayar bisa lolos.

Dan Mas -begitu aku memanggilnya- dan kimis sudah lunas administrasi. Akan tetapi pihak kampus tetep ngotot tidak memperbolehkan keduanya untuk mengikuti wisuda. Dengan alasan sesepele itu. Bahkan ada calon wisudawan yang tidak mengikuti yudisium tapi tetap diperbolehkan mengikuti wisuda. Hmmm aneh kan ?

Dia, dan beberapa pihak sudah berusaha melobi pihak kampus agar diperbolehkan mengikuti wisuda. Akan tetapi keputusan rapat rektorat tidak bisa diganggung gugat. Bahkan mereka berdua mendapat surat cinta dari kampus tentang itu. Padahal sebelum dia berangkat  ke luar kota, dia berusaha untuk meminta izin terlebih dahulu kepada pihak kampus, namu tanggapan negative diberikan. Dibilang merepotkan pihak kampus lah, ini lah itu lah. Harusnya kan kampus merasa tidak rugi apapun sekalipun mahasiswanya tidak mengikuti yudisium tersebut. Kampus makin kesini makin nyebelin.

Harusnya 19 Desember 2022 bisa menjadi momen yang bersejarah bagi seorang sarjana yang sudah menempuh kuliah selama 4 tahun. Tapi malah jadi momen yang menyebalkan dan tidak logis sepanjang sejarah. Aku sudah senang karna terpilih untuk menjadi MC di acara terbesar di kampus ku itu. Tapi forum seramai dan sekhidmat itu malah terasa kosong karena satu orang yang tidak hadir.

Aku tau betapa dia berusaha menutupi hal itu dari orang tuanya, aku tau betapa sopannya dia ketika meminta maaf kepada pihak kampus, aku tau betapa tegarnya dia menerima keputusan itu. Pada tanggal yang sama, dia berangkat ke tempat yang tak jauh dari kampus yang sedang membuka stand foto. Dia ingin berfoto Bersama keempat sahabatnya.

Sahabatnya yang satu, si kimis sudah di lokasi dengan membawa keluarganya, setelah berfoto dengan keluarganya dia pamit pergi berlibur untuk merayakan kelulusannya. Tak lama kemudian, sahabatnya yang satu datang, juga Bersama keluarganya, karna merasa formasi tidak lengkap akhirnya dia memutuskan untuk pamit berlibur merayakan kelulusannya. Setelah beberapa waktu, kedua sahabatnya yang lain menyusul datang. Namun kecewa, sahabatnya yang dua terlebih dahulu berangkat berlibur dengan keluarganya. Nihil.

Lalu Masku ? dia tinggal seorang diri, dia tidak mengajak keluarganya kendatipun hanya untuk berfoto Bersama. Sesuai dengan agenda, dia berangkat menjemputku ke kampus. Mengajakku untuk foto Bersama di studio foto. Selama di perjalanan dia bercerita tentang alasan mengapa kampus tidak memperkenankannya untuk mengikuti wisuda. Alasan yang sebenarnya adalah pihak panitia tidak menyukai sikap kimis ketika mengkritik keputusan kampus yang tidak memperbolehkan wisuda Bersama orang tua. Biaya wisuda mahal tapi nggak dibolehin bawa masuk orang tua. Logikanya mana? Kalo memang alasan masih Corona juga tidak logis, karna kampus sebelah menyelenggarakan wisuda Bersama orang tua.

Selama ini, aku memang mengenal kimis sebagai orang yang keras. Tindakan kimis juga tidak salah dalam mengkritik kampus. Tapi entah jalan apa yang dia tempuh untuk mengkritik kampus, sehingga pihak panitia wisuda tersinggung dan tidak memperkenankannya wisuda.

Yang punya masalah si Kimis, tapi yang kena imbasnya malah Masku. Sampai detik ini si kimis mungkin tidak tau alasan yang sebenarnya ini, mungkin dia Taunya karna dia tidak mengikuti yudisium. Masku hanya diam, tidak marah pada Kimis, dan tidak menceritakan hal ini pada siapapun kecuali aku. Aku berusaha menahan tangis saat mendengar itu. Aku hanya teringat bagaimana si Kimis marah pada Mas hanya karna dia bercerita bahwa dia tidak ikut wisuda.

Tangisku pecah saat aku Bersama dua orang sahabatku di basecamp. Itu adalah kali pertama aku mengeluarkan air mata di hadapan mereka. Entah, nyesek banget rasanya.

Mas, kamu orang baik, orang sabar, aku akui itu mas. Aku sangat bersyukur dipertemukan sama kamu dan diberi kesempatan buat kenal kamu lebih jauh.

Lanjut ceritanya di postingan selanjutnya ya, entah kapan mau nulis lagi.

Keterangan : diketik di Kafe Niyo

Himma Savira

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drama Tesis Part 1

DIAKU #Part5

Diaku Part#3