Drama Pas Mau Dilamar Cowok
Tahun 2022 baru empat bulan, tapi kesalahan yang aku lakuin udah melampaui banyak hari yang aku lewati. Aku adalah orang yang ga pengen nyusahin orang lain. Tapi seberapa keras aku ngehindar untuk nggak nyusahin, makin nyusahin realitanya.
Soal Cinta. Aku deket
sama cowok kan nih, iya cowok yang sering aku certain di tulisan-tulisanku. Yaa
aku udah ga perlu mendeskripsikan dia kayak gimana. Cuman sebaik apapun aku
mendeskripsikannya, umiku tidak menginginkannya. Ketika aku dihadapkan dengan
persoalan aku ingin, dan orang tuaku tidak, Aku pasti akan mengorbaankan
keinginanku. Jadi, ketika dia tanya gimana pilihanku, aku pasti
menggantungkannya pada keputusan orang tuaku. (orang tuaku yang jelas-jelas
jawabannya tidak). Dan aku merasa menjadi orang yang paling jahat karna telah
memberikannya ketidak pastian.
Beberapa waktu sebelumnya, sebelum
sedekat sekarang. Aku sudah menceritakannya kepada umiku. Umiku tempat curhat
terbaik. Lalu dia emang gak cocok gitu sama mas, dan nyuruh aku buat jauhin
dia. Umiku menyuruhku untuk tegas menolaknya. Dan memberikan persyaratan yang
memberatkannya dengan harapan dia akan mundur dan menyerah.
Nyatanya, hal itu sudah sempurna aku
lakukan. Tapi, dia tetap teguh pada pendiriannya, dia ingin bersamaku. Sudah ku
katakan padanya berulang kali bahwa cinta tidak harus memiliki, namun dia ingin
memilikiku, dan memintaku untuk bersabar sampai pada akhirnya dia akan menjadi
apa yang orang tuaku inginkan.
Aku berusaha tidak terlalu
memikirkannya, hanya berpasrah dan mengikuti alurnya. Terserah seperti apa
akhirnya, karna pada dasarnya ada yang lebih penting dari pada perasaanku.
Yakni tanggung jawabku pada organisasi dan proses akademikku. Sampai pada
akhirnya…
Tanggal 7 Maret 2022, dia bilang
kalo keluarganya mau ke rumah. Nggak kaget sih, cuman nano-nano aja gitu
perasaanku. Secepat ini ? bahkan aku tidak tau bagaimana etika seorang cewek
yang diminta oleh keluarga dari pihak cowok.
Pagi harinya aku ikut sekolah
administrasi, yaa belum ada apa-apa kan. Terus karna siangnya harus galang
dana, jadi aku ke secretariat Cabang, kantornya dia. Terus dia bilang kalo mau
ngobrol sebentar, tapi jangan kaget katanya. Penasaran banget kan tuh. Terus
dia bilang kalo abinya mau ke rumah.
Yaaa gak jadi galang dana, aku
langsung mutusin pulang ke rumah. Dan bilang soal ini ke umiku. Harusnya kan,
hal seperti ini harus di musyawarahkan. Tapi karna aku takut, yaaaa aku pasrah
sama orang tuaku. Umiku awalnya nganggep aku Cuma bercanda. Pas aku bilang kalo
beneran, umiiku langsung gak enak makan, langsung mual, juga pusing. Saking gak
maunya umi sama mas.
Sampai pada akhirnya keluarga dia sampe ke rumah. Aku gak keluar,
cuman di dalem. Masak mie dan makan. Hmmm…. Umiku serasa ibu tiri yang judes
banget ke aku. Aku dicuekin, aku serba salah. Hoooo rasanya gak betah banget di
rumah.
Diluar itu, sebenernya aku lebih
mikirin perasaan orang tuaku. Orang tuaku yang sangat berat menerima kenyataan
bahwa anaknya tidak bisa memenuhi permintaannya. Permintaan untuk menjauhi
laki-laki yang sedang mendekatiku. Dan jauh dari itu aku juga merasa bahwa ini
adalah konsekuensi yang harus aku terima karna sudah melanggar komitmen yang
sudah ku buat sendiri dengan diriku. Bahwa aku akan menjomblo selama menjadi
pengurus di organisasi.
Nyatanya, konsekuensi itu bukan
hanya aku yang merasakannya. Tapi merembet pada orang tuaku, pada kaderku, pada
semua tanggung jawabku. So sad.
Oke lanjut cerita yang tadi, pas
keluarga dia udah pulang dari rumah. Abi ke kamar ngobrol sama aku. Katanya abi
minta waktu tiga hari untuk ngasih jawaban. Selama tiga hari ituuu, banyak
sekali diskusi yang dilakukan. Dan banyak sekali pertimbangan yang
dipertimbangkan.
Aku selalu bilang, kalo berat jangan
diterima. Alasan terberatnya lagi adalah aku harus dibawa. Aku sepasrah itu
sama keputusan orang tuaku. Karna aku tidak akan membangun kebahagiaan diatas
kesedihan orang tuaku. Aku sama sekali tidak ikut campur pada keputusan yang
beliau ambil. Aku hanya mengatakan satu hal, bahwa kecerdasan intelektual tidak
menjamin moral. Hanya itu.
Singkat cerita sudah tiga hari nih,
berarti kan keputusan sudah harus orang tuaku katakan. Aku memang tidak terlalu
kepo sama keputusan orang tuaku, dan orang tuaku juga tidak memberitahukannya
padaku.
Pas malem sekitar jam 11. Kakaknya
dia chat aku, bilang terimakasih karna sudah menerimanya. Aku bingung dong,
maksudnya apaan ? jadi aku langsung bangkit dari tempat tidur, nyari HP Abi.
Karna dari pihak dia minta dikabarin lewat online doang. Tapi ternyata HP Abi
dibawa ke kamarnya, so aku ga tau kejelasannya.
Tidak kehabisan akal, aku langsung
chat dia. Logikanya dia pasti udah tau dong jawabannya. Ternyata pas ku chat,
dia gatau juga. Lalu aku chat lagi kakaknya dan menanyakan soal jawaban apa
yang Abi ku kasih. Katanya Abi mengiyakan tapi dengan syarat, dan syaratnya
akan dibahas ketika si kakak ini kelar urusannya. Abi mau ketemu langsung
katanya untuk bahas soal ini. Rasanya campur aduk deh, gak percaya jugak ,
modal pasrah tapi Allah kasih jalan. Akhirnya Umi juga bisa terbuka hatinya untuk
mas. Hmmm pen nangis, terharu.
Semoga hubungan ini langgeng terus
sampe nikah, sampe punya anak, sampe akhirat. Aamiin.
Himma Savira

Baper bacanya ::(
BalasHapusSemoga dimudahkan segalanya yaaa :)
Hapus