Terbukti ! Takdir Allah Lebih Indah. Dan Aku Masih Menunggu Keindahan-Keindahan-Nya
Statement yang bilang kalo “Ujian
bukan untuk membuatmu lemah, tapi akan membuatmu semakin kuat”, itu bener
adanya. Dan quotes yang bilang kalo “semua ada hikmahnya”, itu juga bener. Ini
ceritaku.
Oke, singkat cerita aku adalah orang
yang dulunya ambis banget. Pengen banget masuk univ favorit di kota besar,
karna menilai bahwa kualitas diri juga ditentukan dimana tempat kita belajar.
Dan akhirnya, aku dikasih ujian sama Allah dengan berbagai penolakan dan
kegagalan dalam mengikuti tes masuk kampus.
Sudah merasa terpuruk banget gitu
kan, kayak harga diri di diskon besar-besaran. Merasa nama tercorenglah, merasa
semua usaha gak ada gunanya, dan banyak lagi. Tapi tidak lama setelah melewati
ujian tersebut COVID-19 datang dan melumpuhkan pendidikan di Indonesia.
Temen-temen yang tadinya bangga bisa masuk kampus impiannya harus pulang dan
full melakukan kuliah secara online.
Mereka banyak mengeluh karna tidak
ada keringanan UKT, sedangkan aku disini malah dapet beasiswa, bukan hasil
nyari, tapi ditawarin. Mereka mengeluh uang kost atau uang kontrakan atau uang
asrama yang tetep harus mereka bayar meski sudah tidak ditempati. Sedangkan aku
memang dasarnya berangkat dari rumah, jadi ga ada tanggungan uang property. Mulai
dari itu aku sadar, dan banyak bersyukur, mungkin ini maksud Allah bikin aku
gagal masuk kampus impianku. Aku juga percaya sama quote “suatu saat, kamu akan
bersyukur karna Allah tidak mengambulkan doamu”. Ya karna memang Allah yang tau
yang terbaik.
Aku juga merasa… sepertinya aku
lebih bermanfaat di tempat dimana aku menimba ilmu sekarang. Merasa
keberadaanku diperhitungkan (meski sebenernya nggak juga sih, hihi) dan kayak
lebih bisa improve aja sih. Mungkin juga karna faktor ‘orang-orang emang udah
pada kenal aku, karna emang dari kecil udah disini’. Gak kebayang sih, kalo
misal aku ada di lingkungan baru, apakah keberadaanku akan diperhitungkan
seperti saat ini? Apa aku bisa ngelakuin improvisasi sama kemampuan aku ?
Ya emang sih, kalo kita ga berada
lingkungan baru kita sepertinya tidak akan berkembang. Bisa jadi pas aku di
letakkan disini aku mampu, tapi pas di letakkan disana aku ciut. Tapi kan
setiap orang ada tempatnya dan setiap tempat ada orangnya. Jadi emang perlu
banget sih untuk hidup di tempat yang sesuai sama diri kita, di lingkungan yang
menghargai dan mengapresiasi kita. (meski sebenernya kita gak ngarepin buat
dihargai, diapresiasi)
Nah, itu baru latar belakang yaaa.
Jadi mari kita masuk kepermasalahan wkwk.
Jadi gini, kebanyakan cewek yang
berpendidikan, atau ambis, gila belajar, gila ilmu, gila pengalaman, sering
dapet juara, mereka tuh gak terlalu kepikiran buat bucin-bucinan. Kayak
menghalangi proses aja gitu. (Aku sebenernya gak mendeskripsikan diriku
demikian, cuman orang-orang kayak berpandangan kalo sering dapet juara udah
barang pasti pinter, cerdas, padahal nggak. JAUH !)
Oke balik lagi ke persoalan pertama,
intinya cewek yang ambis kek gitu terkesan akan lebih mementingkan karir
daripada persoalan cowok, suami gitu itu. Dan bisa jadi, misal dia punya geng,
dia pasti nikahnya belakangan, karna dapet cowoknya syusyah.
Jujurly, aku juga demikian. Bahkan
aku punya bayangan akan menikah setelah lulus S2. Seakan-akan aku akan banyak
menyerap ilmu dan memperbanyak pengalaman di masa mudaku. Tapi yang terjadi
tidak demikian. Aku terpedaya, dan gak kuat pendirian ketika dipepet sama
cowok. Akhirnya dekatlah aku dengannya, dan dengan waktu yang singkat dia juga
sudah datang ke rumah untuk memintaku. Dalam waktu dekat ini dia juga akan
membawa keluarganya untuk melamarku. Maksudku, ini di luar dugaan banget. Ini
jauh banget dari perkiraan-perkiraanku selama ini. Aku aja bilang mau tunangan,
temen-temenku pada gak percaya. Maksudku, bukankah ini adalah validasi kalo
orang yang ambis ga bakal cepet-cepet dapet pasangan ?
Nah, korelasi cerita ini sama latar
belakang di atas apa ????
Kesimpulannya gini, orang pintar dan
sering juara seakan-akan dia pasti diterima kalo daftar kulilah di
kampus-kampus gede. Dan orang yang ambis belajar akan susah dapet cowok dan
pasti nikanya belakangan. Tapi yang terjadi di aku malah sebaliknya.
Jadi, inti dari tulisan ini adalah,
gak semua yang terjadi itu selalu sesuai sama apa yang kita rencanakan. Benar
ungkapan yang bilang kalo “manusia itu berfikir, tapi Allah yang punya takdir”.
So, sekarang aku menunggu apa sebenernya yang sedang Allah persiapkan untukku.
Apa sebenernya dibalik ini semua. Tentang dia yang diterima oleh orang tuaku
meski tidak sesuai dengan kriteria mereka, tentang aku yang akan tunangan dan
bahkan bisa jadi dalam waktu dekat akan menikah dengannya. Waktu yang akan
menjawab semuanya. Semoga masih diberi kesempatan untuk menuliskan
kepingan-kepingan cerita hidup ini hingga akhir nanti.
Himma Savira

Komentar
Posting Komentar